Cuitan 1st trimester

Saya hamil.

Yap.. pertama saya test pack dan tahu saya hamil sebenernya hanya kegiatan iseng2 penasaran pengin tahu cara pake test pack dan kebetulan telat… 3 hari. Saya tidak berharap banyak.. karena kalau ditanya ingin segera hamil atau tidak saya masih ragu dan masih ingin mempersiapkan banyak hal.

Ternyata.. bagi Allah saya dan suami sudah siap untuk menerima anggota keluarga baru. Alhamdulillah.

Apa yang saya lakukan ketika tahu saya hamil? Not so excited.. lebih ke arah bingung dan ga percaya bahwa ada segumpal calon kehidupan yang saat ini sungguh bergantung pada saya. Kondisi kesehatan yang berubah drastis ditandai dengan all day long sickness, meriang di sore hari, muntah ketika lapar, muntah ketika kenyang,dada sakit, jerawatan, dan lainnya sempat membuat saya bertanya..

“Kenapa saya harus hamil sekarang?”

Saya bahkan sempat sebal dengan suami, karena menurut keegoisan saya, karena dialah saya sakit2an dan tidak bahagia. Karena dialah saya hamil. Bodoh ya.

Bodoh dan zalim sekali pikiran saya saat itu. Padahal segumpalan lucu itu sedang bertumbuh dan excited untuk terus berkembang demi bertemu dengan kami orang tuanya.

Lama kelamaan, kehadiran si bayi kecil di perut mulai terasa nyata.. terlebih ketika di USG ia bergerak dan berdetak jantung sehat. Ia sudah seperti manusia sesungguhnya. Ketika bapaknya mengaji ia tenang sekali. Ketika ibunya siang2 nyanyi korea, perut sakit (mungkin dia kesal) hahahahahaha..

Ketika saya flek saya pun was was.. takut kehilangan si bayi kacang.. rasanya hati deg2an sekali. Alhamdulillah menurut dokter ia tumbuh sehat.

Saya pun sadar.  saya jatuh cinta pada sebentuk makhlukNya yang bahkan belum pernah saya temui. 😊

Semoga ibu dan bapak bisa selalu menjagamu ya.. dan di bulan Juli kita segera bertemu. Sehat2 ya naak.

 

Dan ohiya.. jangan rewel ya biar ibu ga muntah2 jd doyan makan dan kamupun menggenduuut hihi.

 

Advertisements

Cuitan Sebulan Bersama (pt. 1)

Cuitan ya ini namanya karena kayaknya postingan blog kali ini, bukan berupa rangkaian kata yang seamless dan uwooow seperti biasanya (yaelah emg biasanya jg gak uwooow juga kaliii) hahahaha..

Cuitan pertama di blog (yang niatnya blog bijak nan puitis yang luar biasa keren tapi gagal), sepertinya akan mengenai sebulan pertama setelah menikah (Dengan orang yang supppeeeer kalem tapi boong).

Pak Suami yang dirahasiakan namanya (tapi terpampang nyata di instagram saya) ini adalah suami yang bagi beberapa orang kalem dan dewasa. Namun setelah beberapa lama hidup dengannya saya tahu betul bahwa pak suami ini orangnya seru, menyenangkan, lucu, dannnnnn sungguh mudah untuk dijatuhcintai (bahasa apa iniiii hahahaha). Ya sebagian besar akan membalas dengan “yaiyalah situ kan masih honeymoon phase”.

Ya Alhamdulillah honeymoon phase kita memang in a very happy mode dan excited mode karena memang so far kami sangat bahagia (pak suami, bapak bahagia kan? awaaaas kalo jawabnya mikiiirrr *loh kok). Ya kan serem kan kalo honeymoon phase saya cerita kalo pernikahan saya horror, ribut terus, bete2 terus, lempar2an piring, tabung gas, dll. NAUDZUBILLAH MINDZALIK kaaannn kalo begitu.

Ya pak suami ini punya pertanyaan yang lucu ketika awal2 tinggal bersama.

Suami : “Bu, kamu kalo cuci piring pas kapan?”

Saya : “Abis makan ya cuci piring sih”

Suami : “Oh ok aku juga gitu deh….”

Dih, emang harusnya kapan? hahahah pasti ditumpuk baru dicuci kaaan. dan sekarang prestasi terhebatnya adalah pak suami sungguh rajin cuci piring. Cocok dia jadi duta sunlight gantiin Rafi Ahmad. *hadiahi dengan kecupan

Semoga saja ya semoga.. kita selalu sama-sama. Sama-sama bahagia, sama-sama seru, dan sama-sama berusaha untuk selalu bersama.

..

 

 

Tentang Rumah

Rumah tidak melulu mengenai sebuah bentuk dan jarak tempuh

Rumah bisa jadi adalah sebuah muara dari lelahnya keseharian, renyahnya tawa, cemerlangnya mimpi, sembuhnya rasa sedih, hapusan air mata, kompromi, kaitan dua kelingking tanda maaf, dan terjalinnya rasa saling menyayangi

Rumah adalah sebuah rasa

di mana kita menyisip kopi harapan di depannya, mengisinya dengan rasa syukur, untuk kemudian menghiasinya dengan doa dan lantunan pujian pada sang maha

sembari duduk berdua bertukar cerita bersamanya yang berjanji pada-Nya untuk selalu bersama

 

 

-untuknya 😉

Tentang Cinta

Taukah kalian dari mana pertama kali  anak manusia belajar mencintai dan dicintai?

Dari kedua orang tuanya. Di mana cinta  antara ayah dan ibu menjadi role modelnya.. di mana  kemudian cinta itu dilimpahkan  dengan tulus pada anaknya  yang mana cinta itu tak hanya tumbuh kemudian layu, namun tumbuh, berkembang, untuk kemudian lestari 🙂

Tentang Ikhlas dan Berpikir

Hendaknya, sebelum belajar berbagai macam ilmu, kita menguasai dua ilmu yang paling dasar: ilmu ikhlas dan ilmu berpikir. Ilmu ikhlas berkenaan dengan kelurusan orientasi sebelum, ketika, dan setelah mendapat ilmu. Sementara ilmu berpikir berkenaan dengan kemampuan bertanya, mengidentifikasi, mengelompokkan, menghubungkan, merunutkan, hingga memeriksa informasi agar menjadi ilmu. Orang ikhlas yang tak pandai berpikir rentan menjadi korban, dan mungkin ia tak menyadarinya. Orang tak ikhlas yang pandai berpikir rentan menjadi pemangsa, ia menyadari namun menikmatinya.

via yasirmukhtar.tumblr.com