Hello World after Labor

Assalamualaikum..

Halooo blog yang semakin lama semakin berdebu karena jarang dijamah pemiliknya. Baru ngeh terakhir kali update blog ini ketika lagi super deg-degan menunggu kelahiran Adzkiya (yep, that’s the name of the baby inside the belly). Ada begitu banyak rencana untuk blog ini loh padahal. Sampai rasanya di otak numpuk dan kesel karena ga ada yang jadi kenyataan (terlalu malas untuk update blog pas hamil hahahaha)

Bagaimana kalau kita list saja rencana untuk blog ini? Masalah jadi atau nggaknya urusan belakangan. Hitung-hitung di list agar one day aku tahu milestone untuk blog ini tuh apaaa hahaha.. Ok mulai saja ya..

  1. Once aku lg prepare buat euro trip X baby moon, aku pingin banget berbagi tips travel seperti book hotel, book airbnb, book train ticket dll.
  2. Once aku pulang dari euro trip X baby moon, aku pingin banget berbagi tips travel di masing-masing negara yaitu Belanda, Belgia, dan Perancis.
  3. Naah pas hamil aku pingit bgt berbagi trimester 1 101, trimester 2 101, sampeee trimester 3 101.
  4. Birth story yang menurutku teramat sangat sangat memorable dan nggak akan aku lupa
  5. Chilbirth Education Class di Nujuh Bulan
  6. mengASIhi
  7. First month as a mother
  8. daaaan pengalaman2 mengenai ibu ibu baru yang penuh keodongan, baby blues, tapi magical

yayaya I know pas baca ini keliatan banget maunya banyak tp 0 besar, Palingan baru ada 1 tambahan kategori travel babble ya di blog ini. Musti ada Pregnancy and Motherhood Babbles kayaknya yaah karena sekarang aku bukan lagi remaja galau tak tentu arah. Sekarang sudah jadi ibuk ibuk tukang curhat di snapgram hahahahahaha.

Anw Adzkiya sepertinya mulai ngulet-ngulet minta mim. Sudah yaaa.. hihihi

Social Media Lately

Saya sedih juga liat social media lately.

Kayak yang penuh debat dan kebencian.. padahal saudara sendiri.

Saya sendiri bukan orang yang cukup aktif di facebook kecuali untuk share video2 lucu dan menggemaskan yang kadang jauh dari kata penting hahahaah. Saya juga bukan orang yang lugas mengemukakan pendapat di facebook. Pengecut? Yah mungkin juga ya… terserah juga sih ya orang mau ngomong apa.. tapi dengan kondisi masyarakat yang segitu sensitifnya belakangan ini rasanya lebih bijak diam daripada mengucapkan satu kata tapi nanti puluhan orang menangkap berbeda. Mending kalo nangkepnya ke arah positif, kalo ke arah negatif… aduh lelahnya… apalagi kalo sampe masuk ke ranah debat kusir. -__- HIH.

Saya sebenarnya sungguh berharap kita dapat lebih fokus kebermanfaatan yang dimulai dari sendiri. Mencoba untuk menjadi manusia yang sebaik-baiknya manusia dengan cara apapun. Yahhh at least kalaupun kita ga punya kemampuan apa-apa seenggaknya kita tidak membuat kerugian dan menyakiti orang lainnn laah (Errr hahahaha)

Saya tidak akan membahas sisi mana yang benar dan sisi mana yang salah karena sampe akhirnya manusia bisa pindah ke planet Jupiter juga nggak akan ada satu penarikan kesimpulan yang memuaskan semua pihak. Saya hanya akan membahas bahwa kita diberikan akal sehat untuk mencari tahu, berfikir, bertindak, bersikap, dan hidup dengan cara yang diridhai-Nya. Bertindaklah based on itu.

Kita selalu punya pilihan untuk menyebarkan cinta atau dengki, marah atau kasih, manfaat atau musibah. Rasanya kita tahu harus memilih yang mana kan? Susahkah untuk berbuat positif? Susaaah tapi bukan berarti ga mungkin. Inhale dan exhale sebelum mulai men-judge sesuatu ke arah negatif.. banyak2lah baca buku.. dan berdiskusi dengan orang yang tepat.. baca dan pahami sesuatu dengan kepala dingin dan postif.. juga beribadahlah maksimal sesuai dengan perintah Tuhan-mu…dan yang paling manjur BERSYUKUR.

Karena dengan syukur dunia rasanya lebih damai dan indah… Hayoooo, kita sudah bersyukur belum hari ini?

Disclaimer : I do hope this content doesn’t make any people thinks negatively because trust me, I made it not to harm anyone. I made this just to remind myself that there is always a choice whether you want to be negative or positive… and I don’t think choosing to be negative is quite wise for the sake of your own mind :p

Selamat bersyukur dan berfikir positif  😉

Tentang Rezeki dan Syukur

Saya sempat ngobrol-ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya. Ngomongin apa? Ngomongin rezeki. Hmmm lebih tepatnya ngomongin materi sih. Random sekali memang obrolan yang terjadi di sela waktu senggang nan galau karena menunggu ojek online yang sedari tadi enggan untuk mem-pick up karena gerimis turun tiba-tiba.

“Gue gak yakin sama si A.. soalnya pekerjaannya yaa emang jelas sih.. cuman kalo dibandingin sama si B kayaknya lebih ok. Lebih besar lah ya pastiiii..”

saya hanya tersenyum, sambil mengeluarkan kata-kata klise.

“Rejeki kan udah ada yang atur..”

Lalu teman saya menjawab, “Iya ada yang atur, tapi kan bisa diusahain.. gaji segitu mana cukup untuk beli mobil, beli rumah, ini itu… jaman sekarang tuh dana pendidikan pun mahal.. haduuuh.. kalo dipikir-pikir malah minus jadinya”

Saya pun tersenyum, tapi sambil mikir. Bukan untuk membalas. Sama sekali bukan. Saya pun akhirnya diam, karena belum cukup ilmu untuk menjawabnya. Dan rasanya kata-kata dari teman saya yang realistis itu memang tidak untuk dijawab. Saya pun memutuskan untuk menjadikan kata-katanya bahan berfikir.

Dalam masa-masa berfikir saya yang kadang ditemani sama secomot dua comot tahu baso dan seteguk dua teguk susu french vanilla, saya jadi ingat kata-kata teman saya yang lain bahwa

“Rezeki itu hal-hal yang kita nikmati, bukan sekedar yang kita miliki”

Jujur realistisnya Alhamdulillah sekali bisa punya rumah, punya mobil, dana pendidikan aman, beli ini itu santai, dana hari tua juga aman, dan lain lain. Tapi rasanya sedih sekali jika segala sesuatu diukur dengan materi dan nilai tanpa lagi mempedulikan makna.

Sebenarnya dari dulu saya sangat amat takut menjadi perempuan yang selalu merasa kurang hingga akhirnya menuntut ini itu. Sehingga pasangan tak lagi nyaman di sisi karena ketika bertemu yang saya lakukan hanyalah mengeluh kurang dan tidak cukup. Sungguh saya tidak ingin seperti itu.

Saya berkali-kali mendengar bahwa hidup bahagia itu ya hidup penuh syukur. Karena dengan syukur lahirlah tentram dan dengan tentram, pasangan akan lebih leluasa meraih mimpinya untuk dirinya dan kita. Bersyukur, beryukur, dan mendukung dengan ikhlas segala hal positif yang dilakukannya. Indah ya didengarnya.. walaupun berat pasti dilakukannya karena kadang ego, kenyataan, dan social media bisa dengan mudah mengamnesiakan ingatan dan pemahaman kita akan semua prinsip itu. Tapi semangat hayuk, bisa pasti… karena melangkahnya sama2.. mendukungnya pakai saling.

Indah sekali  karena rasa syukur yang setulusnya tulus dapat membahagiakan diri sendiri dan orang yang bersanding dengan sama tulusnya di sebelah kita. 🙂

Tentang Pernikahan

Saya pernah berada pada masa-masa bingung harus ngasih doa apa ke teman-teman atau saudara-saudara yang menikah. Bagi saya yang harus didoakan untuk mereka itu banyak sekali listnya. Semoga Sakinah Mawaddah Warahmah (yang dulu cuman saya ucapin karena itu seperti template, tanpa tahu artinya *tabokin anak dudul ini gapapa kok), semoga cepat dapet momongan, semoga menua bersama dan hanya terpisahkan ajal, semoga diberikan rezeki yang cukup, semoga diberikan kebahagiaan tak terhingga, daaan semoga semoga yang lainnya.

Tapi setelah saya melewati beberapa hal, belajar beberapa hal, juga merenungi banyak hal (merenung beneran loh sayaa bukan tidur *padahal di sela2 merenung saya juga ketiduran sihhh heuheuheu).

Saya meraih satu hal bahwa tujuan menikah adalah semata-mata untuk meraih ridha Allah. Sesimple itu.

Iya, kata-katanya memang simple tapi maknanya terlalu dalam.

Bahwa menikah bukan semata-mata pacaran halal untuk dibanggakan dan ngiriin teman-teman yang belum menikah.

Bahwa sebenernya menikah adalah menambah tenaga dan amunisi untuk sama sama bermitra menjadi hamba-Nya yang taat. Bahwa menikah adalah berkolaborasi untuk sama-sama meraih mimpi dengan tujuan lurus kepada-Nya. Bahwa menikah adalah soal saling kompromi, saling belajar, saling mendoakan, saling mengingatkan, dan saling menyayangi dengan satu tujuan. Mendapatkan ridha dan berkah-Nya.

Karena kalau Allah ridha.. Allah akan senantiasa memberi berkah.. dan dengan berkah dari-Nya hidup akan senantiasa tenang dan lapang untuk dijalani.

Mudah? tentunya tidak (saya rasa sih tidaaak hihi).

Menikah tidak melulu tentang romantisme. Menikah tidak melulu mengenai tawa. Pasti nantinya akan datang kesulitan.  tidak mengenakkan. Tapi…. tenang saja semua hal itu dijalani bersama-sama. Ada istri untuk suami, ada suami untuk istri.  Dan yang paling penting ada Allah SWT. Yakaan?

Dan ada satu hal yang musti saya ingat selalu :

Bahwa yang lebih berhak atas anak laki-laki adalah ibunya, dan yang lebih berhak atas anak perempuan adalah suaminya. Jadi saat status berubah menjadi istri, jangan halangi suami untuk tetap berbakti kepada orangtuanya–malah harus disupport sebagaimana mestinya. Dan, menjadi istri bagaimanapun, ridha suamilah yang dicari (dan itu istiqamahnya berat, tapi bisa, semangat). Sebaliknya, saat menjadi suami, jadilah imam yang baik dan juga jadilah suami yang memudahkan ibadah istri.

ajinurafifah.tumblr.com

Mengenai yang susah-susah itu sendiri, selain bisa dihadapi berdua, ingat selalu saja moment-moment manis bersama. Ingat selalu saja ridha yang merupakan tujuan kita bersama. Ingat selalu saja bahwa ada romantisme menyenangkan yang bisa disisipkan di sela-sela susah-susah itu. hihihi. Dan satu hal yang penting untuk selalu berkomunikasi tanpa dominasi. Bahwa sebenernya masnya ga akan bisa baca pikiran kita, begitupun sebaliknya. Jangan ngambek2 hanya karena overthinking kita sendiri tanpa dikomunikasikan ke suami gitupun sebaliknya.

Haduuu gaya sekali postingan semi pengingat saya kali ini. Sungguh postingan ini gak ada maksud untuk menggurui. Postingan adalah murni sebagai pengingat saya dikala nanti lupa untuk cherish every marriage moment 😀

 

Parenting Message

Saya memang bukan penggemar Anies Baswedan garis keras. Saya juga bukan orang yang mengikuti sepak terjangnya dengan cukup tekun. Saya hanya seseorang yang mencoba mengambil pesan terbaik dari seseorang (karena saya selalu yakin orang seperti apapun pasti punya pesan positif yang bisa ia sebarkan, tak terkecuali Pak Anies [terlebih beliau kan memang inspiratif bangeeeeettt yaaaaaa])

Dari dulu saya paling penasaran sama yang namanya mendidik. Makanya saya sempat ikut Sekolah Bermain Matahari untuk menjadi kakak guru. Saya sungguh penasaran bagaimana cara mendidik seorang anak. Pesan dan contoh apa yang harus kita terapkan tanpa harus membuat anak tersebut menjadi orang lain. Saya juga selalu penasaran bagaimana cara membuat seorang anak sadar untuk menjadi makhluk yang bermanfaat bukan sekedar benalu di kerasnya dunia.

Nah ketika lagi bingung-bingung saya pun menemukan pesan terakhir dari Pak Anies Baswedan sebelum beliau menyelesaikan tugasnya untuk menjadi menteri. Berikut yaaaaa :

Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang…

Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima…

Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan…

Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana…

Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan…

Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah…

Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya…

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan…

Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya…

Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama…

 

Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :

Pamit saat pergi dari rumah

Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),

Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan

Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,

Berani minta maaf saat ada kesalahan

Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun…

 

Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya…

Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup…

Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama dan kesederhanaan…..

 

– Anies Baswedan

 

Aaaaaaahhh ini bener banget… dari dulu saya merasa kesederhanaan dan rasa syukur adalah kunci dari hidup tenang dan bahagia. Sepertinya memang dua konsep tersebut merupakan pondasi awal yang harus benar-benar ditanamkan pada seorang anak nantinya. InsyaAllah yaaa 😀 *yaelah mieeeeeek………. jauh amat pikirannyaaaaa ahahahahhaha

 

anw terima kasih pak Anies.. 🙂

Belajar menjadi Dream Team

Akhir-akhir ini saya sedang ingin menulis lagi, tapi yang terjadi setiap kali membuka laptop, menyambungkannya ke wifi rumah, saya malah browsing blog orang sehingga akhirnya blog wandering sampai sangat jauh kemudian lupa tujuan awal saya buka laptop kan mulai menulis blog lagi.

Tapi sebenarnya, blog wandering juga tidak mengurangi manfaat (pembenaran banget ini sih) karena saya mendapati banyak sekali penulis penulis blog yang berbakat yang sangat pandai merangkai kata dan insights. Salah satu tulisan adalah dari herricahyadi.tumblr.com. Tulisan ini dibuat sebenarnya sebagai jawaban dari pertanyaan dari seseorang mengenai kriteria pekerjaan istri.

Jawabannya menurut saya sangat mengalir dan pantas untuk ditelisik lebih dalam.

Begini kira-kira tulisannya :
Anon Kepo: Kriteria Pekerjaan Istri?

Selamat Sore, Anon!

Kalau menurut saya, perempuan itu adalah partner laki-laki, bukan subordinat atau di bawah bayang-bayang dominasi laki-laki. Tidak seperti itu. Perempuan itu mempunyai kewajiban yang sama seperti laki-laki sesuai dengan kadarnya masing-masing. Nah, masalah kadar inilah yang sering menjadi perdebatan, sebab takarannya tentu penuh dengan tafsiran. Tapi, pada dasarnya hak dan kewajibannya sama. Misal, menurut saya, dalam mengurus rumah tangga dan anak haruslah berdua. Keduanya harus bekerja sama sebagai sebuah tim. Berbagi tugas karena kesadaran, bukan karena budaya. Misal, urusan rumah tangga adalah kewajiban istri itu budaya. Rasulullah saja mencuci baju sendiri. Jadi sadar bahwa hak dan kewajiban itu berangkatnya dari kesetaraan. Ini dasar sekali sebelum bicara mengenai pasangan kita. Pahami bahwa kita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama, baru membicarakan hak dan kewajiban orang lain.

Sekarang, mengenai istri yang bekerja. Saya, pada dasarnya punya prinsip: kehadiran saya dalam kehidupan istri adalah untuk membantunya mencapai segala impiannya. Menjadi orang yang menemani proses ia menjadi sosok yang diinginkan. Menjadi sayap sebelah kanan untuk ia dapat terbang. Menjadi kaki sebelah kiri untuk ia dapat berlari. Menjadi sesuatu yang justru dengan kehadiran saya mempercepat itu semua, bukan malah menghambat. Apa jadinya jika kehadiran saya justru menghentikan karir yang telah ia bangun, bisnis yang telah ia rintis, penelitian yang telah ia susun? Apapun yang ia mau, selama kita menjadi sebuah tim dengan tujuan yang jelas dan paripurna, pasti akan saya dukung.

Pun, saya tidak mau anak-anak kami ketika besar nanti tidak memiliki sesuatu yang bisa diteladani dari ibu mereka; perjuangan, integritas, kecerdasan, dan keshalihan. Sosok yang didamba oleh suami dan anak-anaknya, bukan?

————————————————————————-

Nah, agar saya cukup ada gunanya di postingan blog kali ini, saya akan coba jawab dari sudut pandang saya sebagai seorang perempuan.

Saya sebagai perempuan dan juga sebagai manusia tentunya mempunyai mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Mimpi-mimpi itu salah satunya ada dalam bentuk karir dan pendidikan. Tidak saya pungkiri saya ingin melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan mencapai apa yang sering orang2 sebut sebagai aktualisasi diri (Walaupun pencapaian aktualisasi diri itu sebenarnya apa juga kan didefinisikan oleh manusia sendiri )

Terlepas dari mimpi-mimpi saya yang bercabang-cabang dan tinggi layaknya pohon beringin yang ratusan tahun tak ditebang, saya juga memiliki akar tunjang yang membuat saya wajib berpijak di bumi. Akar itu bagi saya adalah kodrat saya sebagai seorang perempuan. Nah kodrat ini yang memang kadang masing2 orang dengan pemahaman yang berbeda menafsirkan berbeda2.

Sesemangat apapun.. segiat apapun saya meraih mimpi saya selalu punya kodrat untuk selalu siap sedia untuk keluarga.

Saya tidak akan meminta untuk disetarakan dengan laki-laki. Tidak. karena kami memang tidak akan pernah setara. karena kami memang tidak apple to aplle. untuk apa ingin disetarakan. Kami punya kodrat dan tujuan masing-masing kenapa ada di bumi, bukankah sebaiknya memang untuk saling menopang, berjalan seiring, saling mendukung, dan mempercepat laju satu sama lain.

Ada satu hal yang dari dulu ingin saya utarakan mengenai sudut pandang saya mengenai posisi wanita sebagai seorang istri nantinya. Saya tidak tahu juga apakah saya sepikiran dengan teman-teman lain 😀 Jadi begini sih…

Pernikahan atau ketika seseorang berpasangan.. saya tidak ingin hal tersebut seperti pagar yang membatasi ruang gerak bagi kedua belah pihak. Seakan jika menikah seorang individu tak lagi berhak dan mampu bermimpi apalagi merealisasikannya. Bukankah pernikahan sebaiknya menjadi tempat bersatunya kekuatan dan mimpi? Ketika seorang istri menemani sang suami berproses meraih mimpinya. Menyemangati ketika runtuh, dan tertawa bersama dengan riuh ketika mimpi itu berhasil terengkuh. Bukankah menikah adalah membentuk suatu dream team di mana kekuatan bertambah bukan meredup untuk kemudian tutup.

Ah apalah saya, menikah saja belum tapi sudah banyak omong. Hahahah tapi sungguh dari dulu saya ingin seperti itu… Karena gak tau kenapa I love caring people. By caring someone else and giving strength I feel like I was charging my self to be happy  and to be positive. 😉

Selamat belajar menjadi dream team ya teman-teman 😉

Supportive Woman (imvho)

Perempuan.

Sebuah kata. Sebentuk makhluk hidup yang Allah ciptakan sebagai perantara bagi-Nya untuk menurunkan anak-anak manusia lain penduduk bumi. Sebentuk makhluk yang terlihat lemah, manja, sensitif, lucu, namun bijak yang Beliau bentuk untuk dapat mendidik anak-anak manusia yang sangat Beliau sayangi.

Saya selalu berfikir bahwa dibalik begitu rapuhnya sosok perempuan, makhluk ini memegang peranan yang amat sangat penting dalam agenda agenda misterius nan luar bisa milik sang pencipta. Karena tanpa perempuan begitu banyak fungsi-fungsi penting yang tak bisa tergantikan.

Jika perempuan begitu pentingnya, mengapa masih banyak perempuan yang memposisikan dirinya sebagai sosok yang begitu bergantung, begitu lemah, begitu mengikat, begitu mudah marah, begitu tak mudah memaafkan, dan begitu mudah dijadikan objek?

Tidak. Saya tidak bermaksud menjadi feminis di sini. Saya juga tidak bermaksud menjadian wanita superior tanpa makhluk bernama pria. Tidak. Saya akui, kami perempuan membutuhkan seorang pria sebagai imam tapi bukan berarti terlalu bergantung dan clingy sehingga imam kami itu tak lagi bisa leluasa meraih mimpinya, tak bisa lagi leluasa beribadah kepada-Nya, dan tak lagi bisa leluasa membuktikan rasa sayangnya pada perempuannya karena begitu banyak tuntutan.

“Pacar gue ngambek melulu, gak bisa banget mandiri. Kalo ngambek bisa 3 hari.”

“Istri gue ini gak suka kalo gue pergi sama temen-temen gue, waktu gue cuman buat dia katanya”

Hei perempuan, rasanya kata-kata itupun menyindir saya sedikit banyak. setiap perempuan pasti pernah manja, ngambek, dan marah seperti itu. Sah sah saja rasanya, namun tidak sah jika dilakukan terlalu sering dan berlebihan. Perempuannya sendiri pasti capek kan? Apalagi yang jd objek ketergantungannya.

Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya konsep bernama Soulmate. Belahan Jiwa. Kau melengkapi jiwaku. Kau sumber kebahagiaanku.

Pertanyaannya : Apakah benar Allah SWT menciptakan kita tidak utuh sehingga butuh orang lain untuk sepenuhnya utuh?

Ah rasanya Beliau tidak setega itu.

Bukankah kita memang sudah dari awal merupakan makhluk paling sempurna di muka bumi dan sudah utuh adanya?

Lalu mengapa masih harus bergantung pada seseorang misalkan pasangan? Kenapa masih harus menggantungkan kebahagiaan, mood, potensi, dan mimpi pada orang lain? Kenapa pula harus menjadikan ketergantungan kita menjadi beban untuk orang yang jelas jelas kita sayangi?

Bukankah lebih baik bagi kita untuk sadar benar bahwa kita memang utuh dan lengkap adanya sehingga ketika kita berpasangan, pasangan tersebut bukan melengkapi namun justru compelemnt each other dan support each other. Memang bukan hal yang simpel karena selama ini kita taunya complete each other jadi kesanya unyu gunyu dan galau galau :p padahal rasanya hubungan yang dewasa itu harusnya yaaa ga sekedar unyu gunyu saja kan… Even berantem berantem kecil karena issue prinsipil atau terkait pola asuh atau terkait nabung untuk masa depan rasanya ya gapapa asalkan jangan cuman berantem karena malam ini pasangannya lupa nelpon :p

Yayaya saya tahu mudah sekali untuk bicara dan ngetik karena praktiknya sulit sekali. Kadang hati lebih banyak bekerja daripada kepala. Tapi saya harap lewat tulisan ini, jika nanti saya menjadi wanita menyebalkan tukang ngambek dan negatif kesannya saya akan baca tulisan ini sebagai penjewer kuping hahahaha. *semoga ke depannya ngambeknya dalam batas wajar *sesungguhnya mudah untuk bikin saya ga ngambek.. iming2in saja dengan makanan, es krim, es tebu, atau cilok.. ntar juga kelar hahahaha

Semangat ah!