Tentang Working Mom

Tenang saudara-saudara, saya nggak akan membahas dengan jeli dan menggebu-gebu masalah working mom vs stay at home mom. Sampai kapanpun pembahasan itu nggak akan menemukan titik terang yang hakiki. Nggak akan, karena semua punya pembelaan masing-masing atas pilihan tersebut. Yakan? Yakan? Iyain aja.

Saya sendiri termasuk yang memilih untuk menjadi seorang working mom. Pembelaannya? Simply karena untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, membayar cicilan rumah, dan sekedar beli2 mainan (yang ngarepnya) edukatif untuk Kiya. Ya, memang saya bekerja bukan karena iseng, bukan karena biar bisa me-time tanpa anak, dan juga bukan karena sekedar pengen main sama temen2. Saya bekerja karena memang kebetulan rumah tangga masih membutuhkan saya bekerja karena dengan bekerjanya saya, ada beberapa milestone rumah tangga yang bisa tercapai terlebih lagi untuk dana tabungan pendidikan Kiya (boro-boro banget deh ya untuk mengulang liburan ke Eropa, rasanya dana tabungan jauh lebih patut kami prioritaskan).

Sedih nggak sih ninggal anak di rumah sama mbak doang lagi?

YAEYALAH SEDIHHH.. ninggal anak itu kayak ninggal separuh nyawa. Saya berhutang banyak sama mbaknya Kiya karena saya menitipkan separuh nyawa saya bersamanya dan alhamdulillahnya mbak Rosi (mbaknya Kiya) termasuk yang telaten dan sayang sama Kiya.

Rasanya  seharian ya pingin bgt bisa pulang cepet. Apalagi kalau lihat videonya, langsung pingin gojek ke Cisauk. Tapi ada kewajiban yang musti dituntaskan di kantor sehingga tentu gabisa ngabur seenaknya. Emangnya eyke PNS jaman apaaan… pulang abis Zhuhur sebelum Ashar? hahahaha

Untungnya sabtu minggu saya jaraaaaang banget ya lembur-lembur gitu, jadi bisa deh quality time sama Kiya. Mbak bener2 minimal banget megang Kiya di dua hari sakral itu, karena saya emang berkomitmen untuk total sama Adzkiya weekend. Kecuali ya kalo saya sakit, suami lembur, atau ada halangan2 lain. Sabtu dan Minggu selalu menjadi hari yang saya dan bapak Kiya tunggu-tunggu. Kadang kami juga membawa Kiya main ke taman di cluster rumah kami, main ke Bintaro XChange yang ada tamannya, The Breeze BSD yang juga ada tamannya, atau silaturahim ke rumah sahabat tanpa membawa mbak. Demi demi demi demi bisa total mencurahkan waktu untuk Kiya yang kami tinggal 5 days a week.

Sedih rasanya kalo membayangkan Kiya harus menunggu saya 12 jam tiap harinya. Sedih rasanya kalo membayangkan Kiya harus menunggu 5 hari untuk dapat bermain di taman bersama kedua orang tuanya.

Tapi apa daya, saya tetap harus bekerja demi tujuan-tujuan kami ke depan. Demi pendidikan Adzkiya, demi taraf hidupnya, demi support system Adzkiya.

Percayalah nak, kami sedang sekuat tenaga menyusun masa depan yang terbaik untukmu. Maaf jika ketidaknyamanan datang padamu karena hal itu. Tapi terlepas dari semua itu, kami akan selalu ada di saat pentingmu, berbagi tawamu, menumpas sedihmu, menjadi tempat pulangmu, kala engkau lelah mengembara kelak 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s