Tentang Memasak

“Ibu gak akan pernah memberikan asisten rumah tangga kewajiban untuk memasak. Memasak itu hak istimewa ibu untuk bapak dan anak-anak.”

Dulu waktu masih ingusan, saya nggak mengerti maksud ibu. Ibu ini loh senengnya bikin repot diri sendiri. Kalau sudah ada asisten rumah tangga kenapa harus ribet-ribet bangun jam setengah 4 pagi untuk memasak sarapan dan bekal suami juga anak-anaknya. Terkadang saya juga kesal karena gara-gara bekal saya nggak bisa leluasa menikmati soto ambengan di pinggiran SMA saya dulu.

Tapi semakin ke sini, saya semakin ngeh atas keputusan ibu saya tersebut. Bagi saya masakan ibu adalah masakan terenak di dunia. Lebay? Iyalah. Ibu saya bukan chef macam Gordon Ramsay atau Farah Quinn. Ibu saya hanyalah seorang wanita karier biasa yang selalu bernyanyi ketika memasak kemudian berteriak riang memanggil suami dan anak-anaknya untuk mencicipi makanan tersebut. Keriangan dan cinta yang ia kerahkan ketika membuat masakan itu menjadikan makanan itu adalah makanan terenak di dunia tidak hanya bagi saya tapi juga bagi ayah saya (yang nggak pernah memuji lisan namun memuji dengan nambah sampai 3 kali)

Saya yakin semua anak pasti seperti itu. Masakan ibu, masakan rumahan adalah masakan yang membuat mereka rindu pulang, rindu pelukan, rindu keluarga. Masakan ibu adalah masakan yang berhasil membuat saya bisa membeli novel, komik-komik, dan kaset-kaset gaul jaman dulu (karena uang jajan jalan terus namun tak pernah dipakai untuk beli makan siang). Masakan ibu pun selalu berhasil membuat bapak lupa marah.

Sekarang ketika sudah menginjak umur 27 tahun (bohong diiiiing. Mindset umur saya berhenti sampai 22 tahun *edisi denial). Saya menjadi anak yang bisanya hanya masak-masak standar tumisan atau masak standar barat yang minim bumbu. Masak rendang. Aduuh gagal selaluuuu..

Tapi menurut saya masakan memang benar-benar wadah mencurahkan kasih sayang dan cinta dengan bukti yang nyata. Masakan yang keasinan dan kemanisan pun pasti dibuat dengan daya dan upaya juga niat yang menggebu-gebu untuk membuat si pemakan makanan bahagia dan tentunya kenyang.

Bahagia.

Itu juga yang saya selalu rasakan ketika memasak. saya ingin membahagiakan orang yang saya buatkan makanan. Saya membuatkan makanan untuknya karena sayang dan peduli. Karena cinta. Kalau tidak, untuk apa repot2. GoFood berkeliaran di jalan dan macam pacar, mereka sigap luar biasa memesan dan mengantar makanan.

Terlepas dari rasa makanan saya yang kadang amburadul dan membuat kening mengernyit. Ada segenap niat luar biasa untuk bisa menjadi juara  di hati orang yang saya sayangi ketika membuat masakan itu.

Walaupun amburadul ada segenap ketulusan dan cinta di dalamnya untuk membuatnya bahagia (dan kenyang) tentunya. Semoga saya pun lama-lama jagoaaaaan masaknya. 😀

Jadi jago masak buat perempuan itu mutlak tidak? Tidak juga. Yang mutlak itu adalah usaha dan niat nya untuk menyampaikan kasih sayang apapun perantaranya (salah satunya masakanmu) 🙂

Advertisements

Tentang Waktu Sholatmu

Gausah ngerasa keabisan waktu karena musti cari2 masjid atau mushola untuk menyempatkan salat. Waktumu ga akan habis, karena dengan me-manage waktu sholat mu dengan baik di awal waktu.. Allah juga akan me-manage waktu dan rizki mu dengan baik sebaik2nya baik

-wonderful phrase from my friend’s friend

The word “love” in the Qu’ran

“The word “love” in the Qu’ran appears on over 90 places but interestingly it doesn’t define the word love but speaks about the very first consequence of love…”committing.” Islam talks about commitment. If you truly love then commit. If you do not commit then your claim of love is not real. ”
-Sheikh Yassir Fazaga

Tentang Rezeki dan Syukur

Saya sempat ngobrol-ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya. Ngomongin apa? Ngomongin rezeki. Hmmm lebih tepatnya ngomongin materi sih. Random sekali memang obrolan yang terjadi di sela waktu senggang nan galau karena menunggu ojek online yang sedari tadi enggan untuk mem-pick up karena gerimis turun tiba-tiba.

“Gue gak yakin sama si A.. soalnya pekerjaannya yaa emang jelas sih.. cuman kalo dibandingin sama si B kayaknya lebih ok. Lebih besar lah ya pastiiii..”

saya hanya tersenyum, sambil mengeluarkan kata-kata klise.

“Rejeki kan udah ada yang atur..”

Lalu teman saya menjawab, “Iya ada yang atur, tapi kan bisa diusahain.. gaji segitu mana cukup untuk beli mobil, beli rumah, ini itu… jaman sekarang tuh dana pendidikan pun mahal.. haduuuh.. kalo dipikir-pikir malah minus jadinya”

Saya pun tersenyum, tapi sambil mikir. Bukan untuk membalas. Sama sekali bukan. Saya pun akhirnya diam, karena belum cukup ilmu untuk menjawabnya. Dan rasanya kata-kata dari teman saya yang realistis itu memang tidak untuk dijawab. Saya pun memutuskan untuk menjadikan kata-katanya bahan berfikir.

Dalam masa-masa berfikir saya yang kadang ditemani sama secomot dua comot tahu baso dan seteguk dua teguk susu french vanilla, saya jadi ingat kata-kata teman saya yang lain bahwa

“Rezeki itu hal-hal yang kita nikmati, bukan sekedar yang kita miliki”

Jujur realistisnya Alhamdulillah sekali bisa punya rumah, punya mobil, dana pendidikan aman, beli ini itu santai, dana hari tua juga aman, dan lain lain. Tapi rasanya sedih sekali jika segala sesuatu diukur dengan materi dan nilai tanpa lagi mempedulikan makna.

Sebenarnya dari dulu saya sangat amat takut menjadi perempuan yang selalu merasa kurang hingga akhirnya menuntut ini itu. Sehingga pasangan tak lagi nyaman di sisi karena ketika bertemu yang saya lakukan hanyalah mengeluh kurang dan tidak cukup. Sungguh saya tidak ingin seperti itu.

Saya berkali-kali mendengar bahwa hidup bahagia itu ya hidup penuh syukur. Karena dengan syukur lahirlah tentram dan dengan tentram, pasangan akan lebih leluasa meraih mimpinya untuk dirinya dan kita. Bersyukur, beryukur, dan mendukung dengan ikhlas segala hal positif yang dilakukannya. Indah ya didengarnya.. walaupun berat pasti dilakukannya karena kadang ego, kenyataan, dan social media bisa dengan mudah mengamnesiakan ingatan dan pemahaman kita akan semua prinsip itu. Tapi semangat hayuk, bisa pasti… karena melangkahnya sama2.. mendukungnya pakai saling.

Indah sekali  karena rasa syukur yang setulusnya tulus dapat membahagiakan diri sendiri dan orang yang bersanding dengan sama tulusnya di sebelah kita. 🙂

Tentang Pernikahan

Saya pernah berada pada masa-masa bingung harus ngasih doa apa ke teman-teman atau saudara-saudara yang menikah. Bagi saya yang harus didoakan untuk mereka itu banyak sekali listnya. Semoga Sakinah Mawaddah Warahmah (yang dulu cuman saya ucapin karena itu seperti template, tanpa tahu artinya *tabokin anak dudul ini gapapa kok), semoga cepat dapet momongan, semoga menua bersama dan hanya terpisahkan ajal, semoga diberikan rezeki yang cukup, semoga diberikan kebahagiaan tak terhingga, daaan semoga semoga yang lainnya.

Tapi setelah saya melewati beberapa hal, belajar beberapa hal, juga merenungi banyak hal (merenung beneran loh sayaa bukan tidur *padahal di sela2 merenung saya juga ketiduran sihhh heuheuheu).

Saya meraih satu hal bahwa tujuan menikah adalah semata-mata untuk meraih ridha Allah. Sesimple itu.

Iya, kata-katanya memang simple tapi maknanya terlalu dalam.

Bahwa menikah bukan semata-mata pacaran halal untuk dibanggakan dan ngiriin teman-teman yang belum menikah.

Bahwa sebenernya menikah adalah menambah tenaga dan amunisi untuk sama sama bermitra menjadi hamba-Nya yang taat. Bahwa menikah adalah berkolaborasi untuk sama-sama meraih mimpi dengan tujuan lurus kepada-Nya. Bahwa menikah adalah soal saling kompromi, saling belajar, saling mendoakan, saling mengingatkan, dan saling menyayangi dengan satu tujuan. Mendapatkan ridha dan berkah-Nya.

Karena kalau Allah ridha.. Allah akan senantiasa memberi berkah.. dan dengan berkah dari-Nya hidup akan senantiasa tenang dan lapang untuk dijalani.

Mudah? tentunya tidak (saya rasa sih tidaaak hihi).

Menikah tidak melulu tentang romantisme. Menikah tidak melulu mengenai tawa. Pasti nantinya akan datang kesulitan.  tidak mengenakkan. Tapi…. tenang saja semua hal itu dijalani bersama-sama. Ada istri untuk suami, ada suami untuk istri.  Dan yang paling penting ada Allah SWT. Yakaan?

Dan ada satu hal yang musti saya ingat selalu :

Bahwa yang lebih berhak atas anak laki-laki adalah ibunya, dan yang lebih berhak atas anak perempuan adalah suaminya. Jadi saat status berubah menjadi istri, jangan halangi suami untuk tetap berbakti kepada orangtuanya–malah harus disupport sebagaimana mestinya. Dan, menjadi istri bagaimanapun, ridha suamilah yang dicari (dan itu istiqamahnya berat, tapi bisa, semangat). Sebaliknya, saat menjadi suami, jadilah imam yang baik dan juga jadilah suami yang memudahkan ibadah istri.

ajinurafifah.tumblr.com

Mengenai yang susah-susah itu sendiri, selain bisa dihadapi berdua, ingat selalu saja moment-moment manis bersama. Ingat selalu saja ridha yang merupakan tujuan kita bersama. Ingat selalu saja bahwa ada romantisme menyenangkan yang bisa disisipkan di sela-sela susah-susah itu. hihihi. Dan satu hal yang penting untuk selalu berkomunikasi tanpa dominasi. Bahwa sebenernya masnya ga akan bisa baca pikiran kita, begitupun sebaliknya. Jangan ngambek2 hanya karena overthinking kita sendiri tanpa dikomunikasikan ke suami gitupun sebaliknya.

Haduuu gaya sekali postingan semi pengingat saya kali ini. Sungguh postingan ini gak ada maksud untuk menggurui. Postingan adalah murni sebagai pengingat saya dikala nanti lupa untuk cherish every marriage moment 😀