Belajar menjadi Dream Team

Akhir-akhir ini saya sedang ingin menulis lagi, tapi yang terjadi setiap kali membuka laptop, menyambungkannya ke wifi rumah, saya malah browsing blog orang sehingga akhirnya blog wandering sampai sangat jauh kemudian lupa tujuan awal saya buka laptop kan mulai menulis blog lagi.

Tapi sebenarnya, blog wandering juga tidak mengurangi manfaat (pembenaran banget ini sih) karena saya mendapati banyak sekali penulis penulis blog yang berbakat yang sangat pandai merangkai kata dan insights. Salah satu tulisan adalah dari herricahyadi.tumblr.com. Tulisan ini dibuat sebenarnya sebagai jawaban dari pertanyaan dari seseorang mengenai kriteria pekerjaan istri.

Jawabannya menurut saya sangat mengalir dan pantas untuk ditelisik lebih dalam.

Begini kira-kira tulisannya :
Anon Kepo: Kriteria Pekerjaan Istri?

Selamat Sore, Anon!

Kalau menurut saya, perempuan itu adalah partner laki-laki, bukan subordinat atau di bawah bayang-bayang dominasi laki-laki. Tidak seperti itu. Perempuan itu mempunyai kewajiban yang sama seperti laki-laki sesuai dengan kadarnya masing-masing. Nah, masalah kadar inilah yang sering menjadi perdebatan, sebab takarannya tentu penuh dengan tafsiran. Tapi, pada dasarnya hak dan kewajibannya sama. Misal, menurut saya, dalam mengurus rumah tangga dan anak haruslah berdua. Keduanya harus bekerja sama sebagai sebuah tim. Berbagi tugas karena kesadaran, bukan karena budaya. Misal, urusan rumah tangga adalah kewajiban istri itu budaya. Rasulullah saja mencuci baju sendiri. Jadi sadar bahwa hak dan kewajiban itu berangkatnya dari kesetaraan. Ini dasar sekali sebelum bicara mengenai pasangan kita. Pahami bahwa kita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama, baru membicarakan hak dan kewajiban orang lain.

Sekarang, mengenai istri yang bekerja. Saya, pada dasarnya punya prinsip: kehadiran saya dalam kehidupan istri adalah untuk membantunya mencapai segala impiannya. Menjadi orang yang menemani proses ia menjadi sosok yang diinginkan. Menjadi sayap sebelah kanan untuk ia dapat terbang. Menjadi kaki sebelah kiri untuk ia dapat berlari. Menjadi sesuatu yang justru dengan kehadiran saya mempercepat itu semua, bukan malah menghambat. Apa jadinya jika kehadiran saya justru menghentikan karir yang telah ia bangun, bisnis yang telah ia rintis, penelitian yang telah ia susun? Apapun yang ia mau, selama kita menjadi sebuah tim dengan tujuan yang jelas dan paripurna, pasti akan saya dukung.

Pun, saya tidak mau anak-anak kami ketika besar nanti tidak memiliki sesuatu yang bisa diteladani dari ibu mereka; perjuangan, integritas, kecerdasan, dan keshalihan. Sosok yang didamba oleh suami dan anak-anaknya, bukan?

————————————————————————-

Nah, agar saya cukup ada gunanya di postingan blog kali ini, saya akan coba jawab dari sudut pandang saya sebagai seorang perempuan.

Saya sebagai perempuan dan juga sebagai manusia tentunya mempunyai mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Mimpi-mimpi itu salah satunya ada dalam bentuk karir dan pendidikan. Tidak saya pungkiri saya ingin melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan mencapai apa yang sering orang2 sebut sebagai aktualisasi diri (Walaupun pencapaian aktualisasi diri itu sebenarnya apa juga kan didefinisikan oleh manusia sendiri )

Terlepas dari mimpi-mimpi saya yang bercabang-cabang dan tinggi layaknya pohon beringin yang ratusan tahun tak ditebang, saya juga memiliki akar tunjang yang membuat saya wajib berpijak di bumi. Akar itu bagi saya adalah kodrat saya sebagai seorang perempuan. Nah kodrat ini yang memang kadang masing2 orang dengan pemahaman yang berbeda menafsirkan berbeda2.

Sesemangat apapun.. segiat apapun saya meraih mimpi saya selalu punya kodrat untuk selalu siap sedia untuk keluarga.

Saya tidak akan meminta untuk disetarakan dengan laki-laki. Tidak. karena kami memang tidak akan pernah setara. karena kami memang tidak apple to aplle. untuk apa ingin disetarakan. Kami punya kodrat dan tujuan masing-masing kenapa ada di bumi, bukankah sebaiknya memang untuk saling menopang, berjalan seiring, saling mendukung, dan mempercepat laju satu sama lain.

Ada satu hal yang dari dulu ingin saya utarakan mengenai sudut pandang saya mengenai posisi wanita sebagai seorang istri nantinya. Saya tidak tahu juga apakah saya sepikiran dengan teman-teman lain 😀 Jadi begini sih…

Pernikahan atau ketika seseorang berpasangan.. saya tidak ingin hal tersebut seperti pagar yang membatasi ruang gerak bagi kedua belah pihak. Seakan jika menikah seorang individu tak lagi berhak dan mampu bermimpi apalagi merealisasikannya. Bukankah pernikahan sebaiknya menjadi tempat bersatunya kekuatan dan mimpi? Ketika seorang istri menemani sang suami berproses meraih mimpinya. Menyemangati ketika runtuh, dan tertawa bersama dengan riuh ketika mimpi itu berhasil terengkuh. Bukankah menikah adalah membentuk suatu dream team di mana kekuatan bertambah bukan meredup untuk kemudian tutup.

Ah apalah saya, menikah saja belum tapi sudah banyak omong. Hahahah tapi sungguh dari dulu saya ingin seperti itu… Karena gak tau kenapa I love caring people. By caring someone else and giving strength I feel like I was charging my self to be happy  and to be positive. 😉

Selamat belajar menjadi dream team ya teman-teman 😉

Advertisements

Belajar malu

“Apakah kalian tidak malu, membangun (rumah) yang tidak kalian tempati, berandai-andai sesuatu yang tidak akan bisa kalian raih, mengumpulkan sesuatu yang tidak kalian makan. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah membangun lebih besar lagi, mengumpulkan lebih banyak lagi, berandai-andai lebih jauh lagi, tetapi rumah-rumah mereka telah menjadi kuburan, mimpi mereka hanyalah impian, dan harta mereka menjadi tiada.”
Abu Darda’ra