Macetnya Jakarta yang TRAUMATIS

Jakarta itu ngangenin ngangenin nyebelin. Gemes gemes gimana gitu kan ya sama Jakarta yang kadang (baca : selalu) macetnya di luar nalar pikiran manusia. Macetnya Jakarta semakin menggila kayaknya per April ini karena sedang ada uji coba penghapusan 3 in1.

Sebenernya lucu sekali kalau sekarang saya gemes sama macetnya Jakarta karena pas tahu ada penghapusan 3 in 1 itu saya seneng bangeeeet.. “yahaay akhirnya naik uber udah ga terhalang 3 in 1.. cuman terhalang harga aja yg jd mahal kalo jam 5” TERNYATA OH TERNYATAAAAAA bisa sih bisa lewat jalan yang tadinya 3 in 1 itu pas jam 5, tapiiiii macetnyaaaaaaaaaaaaaaa bikin traumatis.. end to end dari kantor ke rumah aja bisa 2 jam dengan tersendat sendat sepanjang jalan. Hati udah perih sama kayak seluruh badan yang mengigil karena nahan buang air kecil pas macet. -___-

Efek paling terasa adalah ketika dari Epincentrum mau menyentuh Kota Kasablanka saja saya menghabiskan 1.5 jam di jalan itupun cuman sampai kuburan menteng pulo. Padahal kan epicentrum ke Kota Kasablanka cuman secipritan jalan. Dari yang ngomongin video lucu di instagram, ngomongin lipstik, sampe ngomongin ini kuburannya kapan ya dibangun… saya gak juga sampe2 ke Kokas.

Sepertinya solusi satu2nya adalah menggunakan ojek online karena Alhamdulillah-nya mereka bisa nyempil2 dan harganya masuk akal. Solusi lainnya adalah dengan pulang sekalian cepet atau sekalian malam. Sekalian cepet ga mungkin karena kadang kerjaan muncul jam 4 TENG. Pulang malem sekalian juga ga mungkin karena semakin lama saya di kantor entah kenapa perut saya kembung (beneran iniiii ga mengada2). Kasian banget kan RAISA banget lah.. serba salah.

Oiya ada solusi yang surprisingly bisa dijadikan solusi (ngetik apa sih).. jadi ketika macet2 menyebalkan ini terjadi, transjakarta jadi lebih manusiawi antriannya. Mungkin karena orang-orang menggunakan kendaraan sendiri ya… jadi bisa laaah naik transjakarta kalau mau pulang. 😀 Karena beneran deh bawa mobil pribadi hanya akan membuat anda lebih lama di mobil daripada di kamar sendiri -____-

Pak polisi.. amanat dari cerita ini… 3 in 1 diberlakukan lagi ajalah.. hati saya sakit.. apalagi kalo pake nahan buang air.. semua2nya jadi sakiiit.. >.<

 

 

Watching Movie Alone

Randomly kegiatan ini melintas di kepala saya.

Ada kali ya dari 5 tahun lalu saya penasaran pingin nonton bioskop sendirian, nonton film-film guilty pleasure yang ringan (bahkan mungkin menjurus ke gak bermutu bagi sekian banyak orang) sendirian sambil ngemil Old Chang Kee atau Shihlin dan menyeruput  bubble tea. Pasti seru sekali andai bisa seperti itu karena bisa at least 2 jam menjadi diri sendiri tanpa pretensi. Sayangnya sampai sekarang keinginan tersebut belum kesampaian.

Saya selalu end up nonton minimal berdua dan belum berhasil nonton film cheesy sesuka hati (ahahaha). Padahal hampir tiap hari saya buka cinema21.com atau blitxmegaplex.com untuk cari update-an film ga penting apa yang bisa saya tonton tapi ujung2nya end up nonton film box office itupun gak sendirian.

Mungkin lucu bagi beberapa orang yang malah sedih kalo nonton sendirian, tp saya penasaran banget gimana rasanya.

Pokoknya nanti minimal harus 1 kali lah nonton sendirian sebelum ke mana mana musti (dan emang pengennya) berdua atau bahkan bertiga berempat dan berlima. yakaaaan?

*ah ini post kali ini random sekali

Supportive Woman (imvho)

Perempuan.

Sebuah kata. Sebentuk makhluk hidup yang Allah ciptakan sebagai perantara bagi-Nya untuk menurunkan anak-anak manusia lain penduduk bumi. Sebentuk makhluk yang terlihat lemah, manja, sensitif, lucu, namun bijak yang Beliau bentuk untuk dapat mendidik anak-anak manusia yang sangat Beliau sayangi.

Saya selalu berfikir bahwa dibalik begitu rapuhnya sosok perempuan, makhluk ini memegang peranan yang amat sangat penting dalam agenda agenda misterius nan luar bisa milik sang pencipta. Karena tanpa perempuan begitu banyak fungsi-fungsi penting yang tak bisa tergantikan.

Jika perempuan begitu pentingnya, mengapa masih banyak perempuan yang memposisikan dirinya sebagai sosok yang begitu bergantung, begitu lemah, begitu mengikat, begitu mudah marah, begitu tak mudah memaafkan, dan begitu mudah dijadikan objek?

Tidak. Saya tidak bermaksud menjadi feminis di sini. Saya juga tidak bermaksud menjadian wanita superior tanpa makhluk bernama pria. Tidak. Saya akui, kami perempuan membutuhkan seorang pria sebagai imam tapi bukan berarti terlalu bergantung dan clingy sehingga imam kami itu tak lagi bisa leluasa meraih mimpinya, tak bisa lagi leluasa beribadah kepada-Nya, dan tak lagi bisa leluasa membuktikan rasa sayangnya pada perempuannya karena begitu banyak tuntutan.

“Pacar gue ngambek melulu, gak bisa banget mandiri. Kalo ngambek bisa 3 hari.”

“Istri gue ini gak suka kalo gue pergi sama temen-temen gue, waktu gue cuman buat dia katanya”

Hei perempuan, rasanya kata-kata itupun menyindir saya sedikit banyak. setiap perempuan pasti pernah manja, ngambek, dan marah seperti itu. Sah sah saja rasanya, namun tidak sah jika dilakukan terlalu sering dan berlebihan. Perempuannya sendiri pasti capek kan? Apalagi yang jd objek ketergantungannya.

Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya konsep bernama Soulmate. Belahan Jiwa. Kau melengkapi jiwaku. Kau sumber kebahagiaanku.

Pertanyaannya : Apakah benar Allah SWT menciptakan kita tidak utuh sehingga butuh orang lain untuk sepenuhnya utuh?

Ah rasanya Beliau tidak setega itu.

Bukankah kita memang sudah dari awal merupakan makhluk paling sempurna di muka bumi dan sudah utuh adanya?

Lalu mengapa masih harus bergantung pada seseorang misalkan pasangan? Kenapa masih harus menggantungkan kebahagiaan, mood, potensi, dan mimpi pada orang lain? Kenapa pula harus menjadikan ketergantungan kita menjadi beban untuk orang yang jelas jelas kita sayangi?

Bukankah lebih baik bagi kita untuk sadar benar bahwa kita memang utuh dan lengkap adanya sehingga ketika kita berpasangan, pasangan tersebut bukan melengkapi namun justru compelemnt each other dan support each other. Memang bukan hal yang simpel karena selama ini kita taunya complete each other jadi kesanya unyu gunyu dan galau galau :p padahal rasanya hubungan yang dewasa itu harusnya yaaa ga sekedar unyu gunyu saja kan… Even berantem berantem kecil karena issue prinsipil atau terkait pola asuh atau terkait nabung untuk masa depan rasanya ya gapapa asalkan jangan cuman berantem karena malam ini pasangannya lupa nelpon :p

Yayaya saya tahu mudah sekali untuk bicara dan ngetik karena praktiknya sulit sekali. Kadang hati lebih banyak bekerja daripada kepala. Tapi saya harap lewat tulisan ini, jika nanti saya menjadi wanita menyebalkan tukang ngambek dan negatif kesannya saya akan baca tulisan ini sebagai penjewer kuping hahahaha. *semoga ke depannya ngambeknya dalam batas wajar *sesungguhnya mudah untuk bikin saya ga ngambek.. iming2in saja dengan makanan, es krim, es tebu, atau cilok.. ntar juga kelar hahahaha

Semangat ah!