Ruang Peminta

Screen Shot 2015-01-29 at 12.55.49 PM

 

 

 

 

Saya ini peminta-minta sekali.

Sepertinya dari kecil saya memang sukanya meminta-minta. Celamitan kalau kata orang orang. Entah dari bahasa manalah asalnya kata celamitan. Iya, saya celamitan. Tidak hanya sebatas pada makanan, baju, sepatu, minuman, atau gadget. Terhadap semua hal saya ini suka minta-minta.

Saya baru sadar kalau dari kecil hingga umur 25 tahun ini ternyata hampir setiap detik saya meminta. Saya semakin sadar bahwa saya lebih sering meminta sama sesama manusia. Saya minta pada ibu untuk dibelikan mainan bagus, saya minta guru untuk diberikan nilai baik, saya minta pada bos untuk naik gaji, saya minta sama Pak Jokowi untuk tambahkan tunjangan pns, saya minta sama Organda untuk turunin harga angkutan umum, dan lain lain. Saya kebanyakan minta ya. Ahahaha.

Ada hal yang mulai sadari perlahan belakangan ini. Sudah benarkah cara saya minta? Sudahkah saya meminta pada tempat yang tepat? Jawabannya secara tiba-tiba didapatkan di dalam kesempatan saya membaca sebuah novel. Saat itu saya kesal karena endingnya si pemeran utama menderita. Saya kesal. Ingin rasanya saya meminta untuk mengganti alur cerita agar happy ending. Tapi ke siapa ya? Ke siapa saya harus meminta dan berkeluh kesah karena ingin novel ini berlanjut, tidak berhenti sampai di mana si tokoh utama bernasib mengenaskan. Ke Penerbitnya? Ah bisa apa mereka, mereka hanya menerbitkan. Ke Editornya? Ah editor kan hanya menyunting, bukan pembuat alur cerita.

Ah, mungkin ke penulisnya? Iya. Saya harus meminta, bercerita, berkeluh kesah kepada penulis novel tersebut. Dialah satu-satunya orang yang memiliki hak khusus untuk sesuka hatinya mengatur alur cerita bagi tokoh-tokoh utama yang ada pada novel tersebut. Dia pastinya tahu yang terbaik bagi tokoh tokoh yang ada dalam novelnya.

Sesaat itu saya sadar, bahwa hidup juga seperti novel. Ada Tuhan yang merancang hidup kita. Ada Tuhan yang merupakan penulis handal, yang menulis dengan luar biasa satu demi satu kejadian dalam hidup kita. Ada Tuhan yang memiliki hak untuk mengatur awal hidup, alur cerita, dan akhir hidup kita. Ada Tuhan yang dengan senang hati dijadikan tempat bercerita. Ada Tuhan yang sebenarnya rindu akan celoteh ringan dan harapan harapan kita. Tapi kita sungguh sering meminta dan menggantungkan harapan bukan pada-Nya. Harapan-harapan kita dan cerita-cerita kita seringkali tergantung kepada sesama manusia, materi, pride, dan mungkin posisi. Lupa, bahwa ada Dzat yang memiliki hak dan kemampuan untuk mengatur alur cerita hidup kita.

Mungkin jika kita tidak melihat suatu hal terlalu rumit, sedikit lebih legowo, dan meminta pada tempat yang tepat, hidup akan lebih mudah dijalani.

Drowned

Sometimes the ocean floor is only a stop on the journey. And it is when you are at this lowest point, that you are faced with a choice. You can stay there at the bottom, until you’re drown. Or you can gather pearls and rise back up – stronger from the swim and richer from the jewels

-Yasmin M-

Timbangan Kebahagiaan

24be77ba427e28ddab66c27038485e83-2

Karena beberapa orang baru mau menyebut sebuah hal baik ‘kebahagiaan’ ketika ia sebesar dunia ini. -falafu.blogspot.com

Setiap teman teman saya berulang tahun, saya selalu mengucapkan satu hal “Bahagia selalu ya”. Hal itu terasa terlalu simpel ketika teman-teman lain berbondong-bondong mendetailkan ucapannya seperti “Sukses kerjaan, sehat selalu, cepet nikah, cepet punya anak, cepet lulus kuliah, bla bla bla”. Saya tidak bilang ucapan mereka salah dan jelek. Sama sekali tidak. Saya rasa setiap orang berhak untuk memiliki segala bentuk penyampaian doa terbaik untuk teman kesayangannya. Kadang jika yang berulangtahun itu teman super dekat saya, saya akan mendetailkan ucapan bahagia selalu itu.

Ada alasan tertentu kenapa saya mengucapkan hal tersebut. Bahagia itu penting bagi saya. Bahagia bukan tujuan hidup. Bagi saya bahagia seharusnya menjadi atribut khusus bagi setiap proses hidup yang kita jalani. Bagi saya ketika ada di dalam fase terbusuk dan termengenaskan sekalipun selalu ada hikmah atau kebahagiaan (walaupun kecil) di balik itu semua. Hidden Agenda dari sang maha kuasa tidak pernah buruk. Sungguh jahat jika kita berburuk sangka pada-Nya.

Mungkin terkesan begitu naif karena ada beberapa orang yang mengukur kebahagiaan dari besarnya kebahagiaan. Kalau belum sebesar planet Jupiter namanya belum bahagia. Kalau belum bisa punya mobil Ferrari namanya belum bahagia. Kalau belum punya tas Channel baru namanya belum bahagia. Kalau belum naik pangkat jadi Manager namanya belum bahagia. Kalau belum punya pacar menawan untuk dibawa malem mingguan dan disayang-sayang namanya belum bahagia. Kalau belum check in di cafe tergaul di belantara Jakarta namanya belum bahagia.

Padahal bahagia itu sederhana, sesederhana bisa pulang tepat waktu kemudian gelesoran di kamar ber AC sambil ngeblog atau nonton serial TV. Sesederhana bisa tukar pikiran sama ibu bapak soal kondisi negara saat ini (layaknya pejabat besar). Sesederhana bisa makan indomie kuah lengkap dengan telur setengah matang dan cabe rawit ketika hujan. Sesederhana bisa bangun salat Shubuh tepat waktu dan tidak salat terburu-buru karena berlomba dengan naiknya matahari.

Seperti kutipan dari temannya teman :

Bahagia itu yang penting sehat jiwa raga. Bisa Ibadah, Bisa Kerja.

Kalau jiwa raga nggak sehat, apa iya bisa jadi Manager? Boro boro jadi manager, jangan-jangan untuk bisa bangkit dari tempat tidur saja sulit. :p

Berkomunikasi dengan sang Pencipta juga merupakan salah satu proses untuk merasa bahagia, karena dengan rutin berkomunikasi dengan-Nya (minimal 5 waktu sehari) kita tidak akan merasa sendirian. Tidak merasa sendirian itu penting, karena banyak orang yang bunuh diri karena kesepian. Walaupun ternyata physically kenyataannya ada orang yang benar-benar kesepian, ada Dzat Pencipta yang selalu menemani dan membantu kita dalam diam-Nya. Positive thinking lah pada Dia.

Satu hal lagi untuk merasa bahagia dengan mudah. Bersyukur. Bersyukur atas hal kecil sekalipun.

Ayo Bahagia!

Berkelas dan Bahagia ?

be yourself

Kenapa sih banyak orang yang sedemikian rupa melapisi dirinya dan hidupnya hanya untuk keliatan ‘berkelas’ di mata orang lain.

Ah ya sudahlah, toh itu juga bukan urusan saya, dan semakin banyak memikirkannya justru membuat saya semakin terlihat nyinyir dan berdosa karena mengurusi hidup orang. Penyakit hati bukan salah satu penyakit yang ingin saya maintain untuk berada manis di dalam diri saya.

Tapi kenyataan soal keliatan ‘berkelas’ tersebut membuat saya jadi berfikir soal mengapa menjadi diri sendiri begitu sulitnya? Mengapa begitu sulit bagi beberapa orang untuk membiarkan dirinya secara jelas dikenali oleh orang lain, tanpa banyak pretensi, tanpa harus meniru sosok sana sini. Taukah ia, bahwa sebenernya ketika ia menjadi diri sendiri, banyak juga orang yang envy untuk jadi dirinya tersebut.

Bukanlah lelah jika terus menerus menggunakan topeng? Bukanlah lelah jika terus menerus meminta pengakuan wow dari sesama manusia? Pakai topeng dan terlalu banyak melapisi diri bukannya jadi sulit bernafas? Bukannya jadi pengap dan gerah?

Saya harap mereka yang sedang berusaha ‘berkelas’ itu akhirnya tidak menjadi seseorang yang dulunya tidak mereka suka… orang-orang yang keluar dari norma hanya untuk terlihat berkelas dan bahagia.