Berani hidup lebih baik dari berani mati

Berani mati lebih mudah daripada berani hidup

Quotes itu didapatkan ketika sedang asik browsing seorang nama penulis novel remaja terkenal.
Orang tua penulis itu menasihatinya dengan menggunakan statement itu.. dan saya berpikir..
bener juga ya?
Seketika quotes itu terus terngiang di telinga dan terasa pantas untuk direnungi lebih jauh. Bukannya bermaksud untuk melankolis atau sok memandang hidup, karena terkadang ketika sedang ingin ngomong serius tentang ideologi hidup dan lain-lain yang agak berat pasti ada saja yang nyeletuk

“Life is too short to think about that kind of stuff… kenapa nggak let it flow aja sih?”

Yep, nggak salah juga untuk memandang hidup secara apa adanya dan santai, tapi kadang kalimat “let it flow” terlalu simple untuk mendeskripsikan arah hidup kita. Mau ke mana sih kita mem-flow kan hidup kita? padahal kita tahu sendiri bahwa Tuhan nggak akan merubah nasib seseorang kalau kita nggak usaha untuk merubah nasib itu. Cliche? iya sih, tapi bener kan?

Mungkin lebih enak kalau kalimatnya jadi gini ya….
“Let it flow to the right place”
Jadi hidup nggak dibiarin lepas gitu aja, tapi disetir sedikit kalau udah mulai keluar dari jalur. Maksudnya let it flow ke tempat yang jelas, benar, sesuai dengan diri kita dan passion kita itu adalah dengan lewat ‘right path’ karena kalau jalurnya bener pasti kita menuju ke tempat yang bener. Saat kita sampai ke yang bener itu itu pastinya kita telah mencapai self satisfaction dan hidup menjadi lebih ada artinya.

Kembali ke quotes
Berani mati lebih mudah daripada berani hidup

ternyata jika kita udah sampai ke titik
desperately desperate, mungkin ada mata kuliah yang ngulang, ujian nilainya jelek, broken home, putus cinta, patah hati, digosipin orang, difitnah orang dan beragam issue lain yang membuat kita merasa ‘untuk apa hidup jika mati lebih baik? Kan kita jadi nggak ngerasain penderitaan kayak gini’ , kita akan di sampai di fase ‘berani mati’ atau mungkin ‘mending mati’..

Kita nggak bisa juga sih menyalahkan orang -orang yang seperti itu, karena kan kita juga nggak tahu sudah seberat apakah penderitaan mereka. lagipula saya berani taruhan pasti kita semua pernah sampai di fase itu dan thanks God, jika kita bisa melewatinya dan akhirnya pindah ke fase ‘berani hidup’ atau ‘ terpaksa hidup?’ πŸ™‚

Be proud andai kita bisa berani hidup, karena ternyata hidup jauh lebih sulit dari mati
Apa sih yang ada di pikiran sempit kita ketika terbesit opini bahwa mending mati aja deh, kayaknya enak?

Sesudah kita mati, dijemput malaikat maut, selesaikah masalah kita? bahagiakah kita? Apakah saat kita mati kita masih memiliki hak veto untuk ‘menyetir’ hidup kita? Tak ada yang tahu, tak ada yang bisa menjamin seperti apa kita nanti? Bukankah itu sama saja menyerah sebelum berjuang sampai akhir?

Bagaimana jika kita memiliki semangat untuk hidup?

Saat kita hidup, segala jenis bentuk perjuangan ada di dalamnya..
Berjuang untuk mengerti diri sendiri dan orang lain, berjuang untuk kebahagiaan diri sendiri dan orang lain, berjuang untuk memiliki arti dalam hidup, berjuang untuk sukses, berjuang untuk menyelesaikan masalah, berjuang untuk berada dalam jalur yang benar untuk nantinya merasa
Benar benar Hidup..

Bahkan saking sulitnya untuk berani menjalani hidup, sebagian besar orang jadi pilih bersikap β€˜heroik’ dengan berani mati saja. (-Sitta Karina-)

dan saya setuju dengan pendapat ini..

Nggak tahu juga cobaan seperti apa yang akan menghadang kita di tengah-tengah kehidupan, tapi yang jelas, ingin rasanya berani hidup , berjuang menjalani hidup, hingga akhirnya usai waktu kita untuk berjuang… saat masa kontrak kita di dunia ini selesai… saat kita mempertanggungjawabkan segala bentuk perjuangan hidup kita (on right path or not)… dan mendapatkan balasan yang sesuai..

Apa yang kita tanam, itu juga kan yang kita dapat… πŸ˜‰

Memang nggak akan pernah ada habisnya kalau ngomongin masalah hidup dan yang ada notes ini hanyalah salah satu issue yang bagi beberapa orang big deal, dan bagi orang lain no big deal..

*notes ini sekedar perenungan aja, tumben-tumbennya juga merenung ini… hehe
bukan menggurui, bukan mendoktrin.. cuman mau nge-share pendapat yang ngendep di otak.. πŸ˜‰
maaf ya kalau kata-katanya muter2,absurd atau sok tahu…
I’m not a writer anyway… ;p