What Mother Teresa said :)

Well, I read it somewhere.. in magazine or some life quotes website. It’s kinda inspiring so I put it here. Hope it can inspire you all 🙂

Life is an opportunity, benefit from it.
Life is beauty, admire it.
Life is bliss, taste it.
Life is a dream, realize it.
Life is a challenge, meet it.
Life is a duty, complete it.
Life is a game, play it.
Life is a promise, fulfill it.
Life is sorrow, overcome it.
Life is a song, sing it.
Life is a struggle, accept it.
Life is a tragedy, confront it.
Life is an adventure, dare it.
Life is luck, make it.
Life is too precious, do not destroy it.
Life is life, fight for it.

Mother Teresa

Pilihan Bono

There’s no wrong decision in life. Decision has no right or wrong. It’s wrong when you decide to avoid deciding.

Bono berguling di kasurnya. Raut wajahnya suntuk tanpa ada orientasi untuk bangun dan mulai bersiap ke kampusnya di daerah Kebayoran. Begitu banyak pikiran yang nyaman membuat sarang di otaknya, hingga rasa galau dan malas muncul tanpa ragu. Bono memandang foto yang dengan bangga menampilkan kelima sahabatnya. Rasa marah dan kesal muncul dari dalam dirinya. Ia sama sekali tak bangga menyaksikan foto itu terlebih melihat Dani yang dengan bahagianya merangkul Rania, pacar Bono.. bukan.. tapi mantan pacar tepatnya. Sekarang sudah jadi pacar Dani. Cih.

Semalaman ia disergap rasa bersalah, perasaan bodoh, perasaan terbuang.. Kenapa dulu ketika SMA ia memilih Dani untuk jadi sahabatnya? Kenapa ia harus dekat dengan orang brengsek yang nantinya akan dengan tega merebut pacarnya? Dani yang tiga hari lalu bergandengan tangan dengan Rania setelah minggu lalu Rania putus dengan Bono. Dani yang bahkan dengan santai minta maaf tanpa ada rasa bersalah terlintas di raut wajahnya.

Bono pikir ia telah salah memilih teman.

Pandangan matanya beralih pada seuntai gelang yang tergeletak tak berdaya di atas kasurnya, tepat di samping wajahnya. Dengan marah ia membuang gelang itu. Gelang dari Rania. Gadis cantik yang tak pernah ia kira bisa ia dapatkan, akhirnya berhasil menjadi pacarnya dan hubungan itu berjalan baik-baik saja 2 tahun terakhir. Tapi kemarin, Rania menangis sendu, merasa tak lagi bisa melanjutkan hubungan mereka karena tak bisa membohongi perasaannya  pada Dani. Bono kehabisan kata-kata. Ia hanya meninggalkan Rania begitu saja dengan pikiran kosong.

Bono pikir lagi-lagi ia telah salah memilih, dan kali ini dalam kasus memilih pacar.

Seandainya Bono diberi kesempatan untuk kembali ke masa di mana ia masih dapat memilih untuk berteman dengan Dani atau tidak, bersama Rania atau tidak.

Bono tidak menyadari bahwa saat ia sibuk menyesali keputusannya dulu, saat inipun ia sedang diberi banyak sekali pilihan penting..

Melepaskan Dania atau tidak, merestui Dani dengan Rania atau tidak, Move on dan lanjutkan hidupnya atau terus terpuruk seperti saat ini?

Bono berharap kembali ke masa di mana ia tak salah memilih dan saat inipun ia memilih untuk tidak memilih apa yang seharusnya ia pilih. Bono menghindar untuk menghadapi kenyataan dengan menghindar untuk tidak memilih.

Bono nggak salah karena memilih Dani yang diam-diam suka sama Rania, pacar sahabatnya. Bono juga nggak salah memilih Rania sebagai pacarnya walaupun ujung-ujungnya diketahui Rania tidak setia. Teori probabilitas yang Tuhan terapkan dalam hidup manusia (gak Cuma Bono) punya banyak pelajaran yang bisa diambil (ibarat rasa permen yang kita pilih). Mungkin kalo Bono gak berteman dengan Dani dan Rania, Bono tidak akan belajar betapa pentingya kesetiaan dalam pertemanan dan persahabatan..

Well.. hidup itu seperti masukin tangan ke sekaleng penuh berisi permen tapi kita Cuma boleh pilih satu permen. Kita bisa dapat permen yang rasanya sama sekali nggak enak atau kita bisa dapat rasa permen yang super enak dan pengen nambah lagi. Tapi akan sangat sayang ketika kita menolak untuk memilih permen-permen itu karena akan kehilangan kesempatan untuk merasakan nikmatnya permen enak. Kalau permen yang kita pilih nggak enak, dipersilakan untuk pilih permen yang lain..

Selalu ada akibat dari sebuah kejadian. Selalu ada drawback dari setiap pilihan.. manusia gak pernah salah pilih.. lebih salah lagi kalo menarik diri dari semua pilihan dan memilih untuk diam di tempat. Walau diam di tempat mungkin juga pilihan ya hehe.. yah life is all about choices..

Ketika permen yang kita pilih pahit, masih ada setoples besar permen dengan ratusan rasa manis di dalamnya untuk kembali kita pilih..

Kemarin, kini, dan esok

So what if your past was suck and fortune teller said that your future will be as suck as your yesterday. As long as you own your present day, everything is gonna be ok.

Rana plays twitter too much. Kegiatan tweet tweet menjadi hal yang pertama kali ia lakukan ketika bangun tidur (bukan lagi lari ke kamar mandi untuk sikat gigi dan sekedar beri salam rutin pada toilet). Sebuah tweet yang ia lupa juga dari siapa itu, membuat ia bisa tersenyum di pagi yang lumayan membosankan. Rana mencoba menyerap inti dari tweet itu yang bahwa kemarin ya kemarin, esok ya esok, yang harus kita lakukan ya jalani apa yang ada hari ini, karena hari ini adalah anugrah  dari Tuhan (She thinks that is why today can be called present day because IT  IS a present from God).

Rana sempat termenung sesaat sesudah membaca tweet itu. Beberapa hari ini ia sering kali menangis dan sedih karena menyesal sudah membuang tiket emasnya untuk ikut pertukaran pelajar ke Jerman karena memilih menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Ia juga sering kali dibuat stress setengah mati dan kurang tidur karena skripsinya yang  macet total dan belum ada tanda-tanda bisa memiliki kemajuan. Betapa ia sering menghabiskan waktu hanya untuk ngedumel marah ke teman-temannya, keluarga dan bahkan dirinya sendiri. Waktunya juga habis hanya untuk bersenang-senang tak keruan dengan alasan ngeles macam :

“ Hari ini lah senang-senang, besok baru mulai lagi. ”

Ujung-ujungnya esok hari Rana kembali menggunakan quotes itu untuk sekedar leya leye di Pop Coffee dan menyeruput ice blended-nya sambil bengong kembali menyesali keputusannya untuk memilih menjalani skripsi daripada pertukaran pelajar yang nota benne terdengar jauuuh lebih asik daripada bikin kuesioner dan mohon-mohon orang buat isi. Dalam tiap lamunannya Rana selalu menyalahkan keputusan masa lalunya dan takut akan masa depannya.

“Apa aku bakalan lulus tepat waktu?”

“Apa skripsi aku bakal selesai”

“Kalau aja aku pertukaran pelajar, pasti deh seenggaknya aku bisa nunda skripshit satu ini”

“Kalau aja aku belajar cara nulis ilmiah lebih baik lg waktu kuliah penulisa ilmiah”

“Kalau aja aku…… “ (Daaaan puluhan ‘kalau aku’ lainnya)

Di atas tempat tidurnya dengan mata masih setengah terbuka namun menatap layar ponselnya dengan penuh kesadaran dalam hatinya. Selama ini ia terlalu banyak membuang waktunya. Membuat setiap detik “present ”nya menjadi “past” dengan mudahnya. Membuat “this second” berlalu percuma hanya untuk menjadi “last second” yang lagi-lagi akan ia sesali.

Takut akan masa depan.

Kenapa ia harus takut dengan visualisasi yang hanya ada di otak paranoidnya. Otaknya yang bahkan udah lemes dan loyo sebelum berjuang (menyelesaikan satu bab skripsi saja, Rana belum sama sekali).  Tidak bisa Rana sangka bahwa ia telah membuang begitu banyak waktu.

Rana pun menutup aplikasi twitternya, meletakkan ponselnya di meja belajar, kemudian bersiap untuk jalan ke kampus. Begitu banyak rencana positif di otaknya untuk segera ia jalani. Bertemu dosen untuk membahas progress skripsinya, bertemu teman lama yang sudah lama ngajakin bisnis studio fotografi, dan minta maaf sama segenap teman, keluarga dan tentunya diri sendiri karena sudah terlalu banyak ngedumel.

Present is the key.  Present will be past  and  future will be present.